LIVING in HARMONY within THE DIVERSITY
Keberagaman (diversity). Kata ini sebenarnya memberikan makna yang sangat indah dan dalam, bagi mereka yang mau memperhatikannya. Namun, tidak setiap orang memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengejawantahkan kata tersebut. Untuk tema artikel kali ini, saya membidik topik mengenai keharmonisan dalam keanekaragaman di dalam masyarakat, yang kerap kali diabaikan di dalam hidup bermasyarakat. Setiap hari,kita selalu bersentuhan dengan berbagai macam hal yang berbeda, satu sama lain. Mari kita lihat dari lingkungan terkecil kita, keluarga. Setiap hari kita bertemu dengan ayah, ibu, adik, kakak, yang masing-masing dari mereka sungguh berbeda dan unik. Baik dari segi karakter, kepribadian, hobi, penampilan, setiap dari mereka memiliki kekhasan masing-masing. Bahkan, ada suatu ungkapan yang menyebutkan, bahwa " tidak ada 2 orang manusia sekalipun di dunia ini yang dilahirkan dengan karakter dan ciri-ciri yang sama persis, sekalipun itu adalah hasil kloning (penggandaan gen)" .Namun, dari segala kekhasan dan keunikan yang dimiliki oleh masing-masing individu, kita perlu bertanya pada diri kita masing-masing, apakah kita sudah cukup toleran terhadap segala perbedaan yang ada? Ataukah kita justru salah satu di antara mereka yang suka memprovokasi untuk menjadikan perbedaan sebagai hambatan berelasi dengan orang lain? Mari kita tanya terlebih dahulu kepada diri kita masing-masing. Seperti yang kita tahu, ada berbagai macam kejadian di dunia tentang yang merefleksikan sikap toleransi terhadap perbedaan, baik antar masing-masing individu, kelompok, organisasi, maupun negara. Sayangnya, tidak semua dari kejadian tersebut mampu membawa atmosfer yang positif terhadap toleransi akan keanekaragaman dari masing-masing individu.
Sebut saja beragam peristiwa berdarah yang terjadi, baik di tingkat domestik maupun mancanegara, seperti perang suku di Papua (Indonesia), kerusuhan di Sampit (Kalimantan Tengah, Indonesia) antara suku Dayak dan Madura, pembunuhan besar-besaran orang Yahudi di Jerman dengan alasan perbedaan ras antara bangsa Arya dan bangsa Yahudi , dimana suku bangsa Arya merasa jauh lebih unggul (saat kekuasaan Adolf Hitler), aksi terorisme atas dasar budaya dan agama, aksi pembakaran tempat-tempat ibadah, dan masih banyak lainnya. Dari contoh-contoh nyata di atas, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa di sekitar kita, toleransi terhadap perbedaan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan) dan kesadaran untuk membangun toleransi tersebut sebenarnya masih berada pada tingkatan yang tergolong sangatlah rendah.
(ZONA ASIA, PAJU, Kelompok 3 Korea)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar